Hidup Tenteram dan Produktif dengan Kepemimpinan

Kepemimpinan erat kaitannya dengan keberhasilan atau kegagalan yang dialami individu, bahkan kelompok maupun organisasi. Dalam perspektif kepemimpinan, individu-individu yang sukses dan berhasil adalah mereka yang memiliki keterampilan dalam memimpin, terutama sekali dalam memimpin dirinya sendiri dan orang lain di sekitarnya. Kepemimpinan itu bukan sekedar bagaimana memberikan perintah melainkan harus mampu mendorong orang untuk merasa tergerak dan tergugah sehingga mau berbuat sesuatu dengan penuh kesadaran. Itulah kepemimpinan yang efektif sebab orang lain melakukan sesuatu karena adanya gairah dan tanggung jawab yang dirasakan, bukan karena rasa keterpaksaan dan keharusan.

Sebagai pemimpin, manusia adalah makhluk yang utuh. Oleh karena itu menjadi pemimpin tidak hanya bagaimana kita mengarahkan orang lain, baik dengan kekuatan otak maupun kekuatan fisik yang dimiliki. Namun yang utama lagi ialah bagaimana kita dapat memberikan yang terbaik dengan menambahkan kekuatan hati dan kekuatan jiwa untuk memaksimalkan kepemimpinan kita tersebut.

Dengan demikian maka kepemimpinan haruslah mencerahkan dan menyentuh hati sanubari manusia sehingga meninggalkan bekas yang mendalam untuk diteladani. Kepemimpinan yang baik berupaya untuk menanamkan tanggung jawab dalam diri orang-orang dengan cara melayani dan memuliakan mereka. Hal ini bermula dari kesadaran bahwa pada hakikatnya semua individu adalah seorang pemimpin. Dengan demikian maka praktek kepemimpinan harus diarahkan untuk mendorong orang lain agar mampu bertindak sebagaimana halnya seorang pemimpin.

Ketiadaan Kepemimpinan yang Efektif

Begitu pentingnya arti kepemimpinan untuk memberdayakan orang lain sehingga dapat dibayangkan seandainya suatu kelompok baik keluarga, organisasi, maupun masyarakat mengalami kondisi “ketiadaan fungsi kepemimpinan”. Dalam kondisi ketiadaan fungsi kepemimpinan itu maka cepat atau lambat orang-orang akan mengalami ketidakpastian dan terombang-ambing tanpa arah karena tidak adanya pemimpin yang mampu menjadi nahkoda. Ketiadaan kepemimpinan disini bukan berarti tidak adanya orang yang menduduki posisi sebagai pemimpin, melainkan tiadanya pemimpin yang mampu menjalankan fungsi-fungsi kepemimpinan dengan baik dan efektif.

Untuk dapat memimpin, seseorang harus mengenali dirinya secara utuh sebagai manusia. Ia harus menyadari bahwa disamping fisik, manusia juga memiliki akal, hati, dan ruh. Fisik, akal, hati, dan ruh adalah aspek-aspek yang membentuk dirinya sebagai manusia. Jika salah satunya tidak ada maka ia bukanlah manusia. Pentingnya mengenali diri bertujuan agar ia mengoptimalkan kekuatan masing-masing aspek diri tersebut dan menggunakannya demi kebaikannya dalam memimpin.  

Hal ini penting karena seringkali dilupakan bahwa masalah kepemimpinan berhubungan dengan sumber daya manusia. Sebaliknya kepemimpinan tidak berhubungan sama sekali dengan barang atau benda yang lebih banyak dijalankan oleh fungsi-fungsi manajemen. Sebagai makhluk hidup, disamping tubuh manusia juga memiliki perasaan, pikiran, dan nurani yang harus difahami oleh seorang pemimpin. Pemimpin yang mampu mengenali dirinya akan mampu mengenali diri orang lain dan menghadapi mereka seperti halnya sedang menghadapi dirinya sendiri.   

Oleh karena itu agar seorang pemimpin mampu menggerakkan seluruh potensi diri manusia secara maksimal maka sumber-sumber nilai kepemimpinan yang digunakannya harus berasal dari konsep pemikiran tentang diri manusia itu sendiri sebagai insan yang utuh yang terdiri dari elemen ruh, hati, pikiran, dan tubuh yang tidak terpisahkan. Dengan pendekatan ini maka seorang pemimpin dapat memiliki empati dalam memimpin orang lain. 

Advertisements